Apa itu rush money? Dan Apa Dampaknya Terhadap Perekonomian?

 

Akhir-akhir ini, banyak orang yang membicarakan mengenai fenomena rush money mulai dari media social seperti facebook, twitter, line dan juga melalui media massa seperti koran, radio, televisi dan sebagainya. Rush money sendiri adalah keadaan dimana masyarakat yang menjadih nasabah di bank-bank secara serentak mengambil simpanan mereka, sedangkan seperti yang kita tahu bahwa hanya memiliki cadangan kas sebesar 10 – 20% dari aktiva mereka. karateristik bank yang “borrow short lend long” yang artinya bank meminjam dalam jangka waktu yang sedikit dan meminjamkannya dalam waktu yang panjang sehingga 80% dana masyarakat dipinjamkan/diinvestasikan sedangkan 20% disimpan di brankas dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Sehingga, apabila terjadi rush money maka bank yang semulanya sehat akan mengalami masalah likuiditas dan berujung pada masaalah solvabilitas sehingga hal ini dapat mengganggu sistem keuangan. sistem keungan sendiri dapat dianalogikan seperti jantung yang ada di dlam tubuh kita. Jika jantung terganggu, maka akan ada masalah terhadap peredaran darah dalam tubuh. Sama halnya dengan sistem keuangan, jika sistem keuangan terganggu maka tidak hanya sektor keuangan saja yang akan berdampak tetapi juga sektor riil. Karena kedua sektor tersebut saling berpengaruh satu sama lain.

Berkaca dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997, di mana masyarakat kalah itu secara bersama-sama mengambil simpanan mereka di bank sehingga menyebabkan banyak bank pada saat itu bangkrut/collapsed. Dan dampaknya sangatlah dirasakan, dimana butuh waktu bertahun-tahun dalam memulihkan akibat dari yang ditimbulkan oleh krisis tersebut. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang baik tidak seharusnya kita termakan isu-isu yang dapat menggangu stabilitas perekonomian. Marilah kita menyikapi isu-isu tersebut dengan bijaksana.

Entrepreneurial Mindset

Akhirnya, setiap orang yang mengambil peran atau karir sebagai wirausaha perlu mengetahui pilihan-pilihan apa saja yang tersedia dengan menjadi karyawan,  intrapreneur, enterpreneur atau social entrepreneur. Penjelasannya adalah sebgai berikut.

  • karyawan : Anda bekerja pada orang lain dan bila berhasil, Anda dapat, mencapai karier sebagai profesional eksekutif dengan peran sebagai pengambil keputusan.
  • Intrapreneur: status Anda adalah karyawan, bekerja pada orang lain, memiliki atasan, tetapi yang Anda cari adalah kemerdekaan dan akses terhadap resources dan anda memiliki jiwa kewirausahaan.
  • entrepreneur : anda tidak bekerja pada orang lain, melainkan pada usaha yang anda dirikan atau kembangkan sendiri. Anda adalah pemilik usaha yang memiliki kebebasan mengatur hidup, arah usaha, dan mengambil keputusan-keputusan strategis. Anda bisa menjalankannya sendiri, bisa juga menggunakan para profesional. Anda menanggung risiko, tetapi, juga menikmati keuntungan usaha setelah membayar gaji karyawan dan kewajiban-kewajiban lainnya.
  • Social Entrepreneur : pelaku, kegiatan sosial yang berwatak enterpreneur. Sebaigian diri anda barangkali berpikir lebih, menyukai pekerjaan pada lingkup sosial atau atau mendirikan LSM. Apakah itu dalam bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup pemberdayaan masyarakat, demokrasi, hukum dan hak asasi manusia, kesenian dan sebagainya.

 

Dengan memiliki watak enterpreneur, anda dapat memajukan kegiatan sosial hingga kegiatan sosial anda dpat menjadi lebih mandiri dan berkelanjutan, dan bukan semata-mata hidup dari sumbangan saja.

Sumber : Kewirausahaan : Teori dan praktik – Geoffrey G. Meredith et al.

Mengambil Keputusan

 

 

” seorang wirausaha harus kreatif,  terutama dalam mengambil keputusan. Anda harus punya kepercayaan diri yang teguh dan yakin bahwa mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat. Kemampuan membuat keputusan inilah yang membedakan seorang wirausaha dari yang lain.”

 

Masa depan organisasi ditentukan oleh putusan anda. Pada umumnya semakin penting keputusan yang anda ambil, semakin sedikit informasi relevan yang tersedia. Data kuantitatif biasanya tersedia untuk mengambil keputusan rutin; tetapi fakta dan angka ini kerap tidak berarti bagi keputusan tingkat Puncak yang mempengaruhi masa depan organisasi.

 

Dalam perusahaan besar, manajemen senior biasanya mengambil keputusan atas dasar data dan dokumentasi perusahaan yang terdapat dalam survei, laporan, dan anjungan komite. Informasi ini biasanya telah dihimpun dengan cara yang baku, sesuai dengan teknik-teknik pemecahan persoalan. Sebuah persoalan utama dapat dibagi-bagi sehingga sebagian dari padanya dapat dipecahkan dengan segera – biasanya karena ada kebutuhan mendesak yang hasilnya cukup pasti.  Biasanya suatu, keputusan dicapai melalui prosedur tetap, yang dimengerti dengan baik, oleh manajemen; dan, mungkin ini hasil, musyawarah, karena banyak orang yang tidak bersedia memikul tanggungjawab pribadi atas keputusan tadi.

 

Sebagai wirausaha anda harus kreatif daripada manajer konvensional, karena anda harus membuat putusan baik tanpa bantuan data kuantitatif atau dengan dukungan staf yang berpengalaman. Mungki anda harus memandang sebuah persoalan dari pelbagai sudut dan mencari cara baru untuk memecahkannya. Anda harus, memutar otak dengan mengansalkan intuisi dan ide-ide anda.

 

Sumber : Kewirausahaan : Teori dan praktik – Geoffrey G. Meredith et al.

Singkong-Tela Tela- Dengan Omzet 2,5 – 3 Miliar Rupiah/Bulan

Febri mengangkat martabat singkong

Selama ini, singkong identic dengan makanan orang ndeso, jauh dari kesan “mewah”, sehingga sering disepelekan. Namun, di tangan Febri Triyono (27) dan teman-temannya, umbi tanaman khas tropis bernama Inggris Cassava itu menjadi lading emas yang menjanjikan.

Melalui usaha Tela Tela, singkong diubah menjadi kudapan dengan berbagai jenis rasa, mirip kentang goring yang hadir di tiap restorant cepat saji. Dalam waktu empat tahun, Tela tela menjadi merek waralaba popular, yang tersebar di 182 kota dari banda Aceh hingga Papua dengan 1.650 gerai.  Dengan harga jual satu pak Rp. 3000-6000, omzet usaha ini mencapai Rp. 2,5 – 3 miliar perbulan. Tenaga kerja yang terserap sekitar 3.500 orang. Tak mengherankan bila Febri terpilih menjadi salah satu wirausaha muda terbaik 2008 – 2009 di Dji Sam Soe Award.

Febri bersama Eko Yulianto, Ashari Tamimi, dan Fath Aulia Muhammad memulai usaha Tela Tela pada September 2005. Saat itu Febri dan Eko, yang bersaudara kandung, mencari usaha yang bisa mengatasi masalah keuangan keluarga mereka. Bersama kedua teman kuliah Eko, yaitu Ashari dan Fath, empat anak muda ini menjual singkong goring. Pertama berjualan di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada. Pembeli yang kebanyakan mahasiswa, memberi respon positif. Namun, mereka tidak lama berjualan di sana karena diusir satpam kampus UGM. Gebri lalu memindahkan dagangan di dekat rumahnya, yang berada di lingkungan kos-kosan mahasiswa. Peluang mengembangkan usaha databg saat mendapat tawaran ikut Atma Jaya Expo 2005 di Yogyakarts. Setelah Atma jaya Expo, Febri mulai menata usahanya, antara lain dengan mendesain kemasan dan gerobak, selain mulai mengadopsi sistem waralaba. Setiap orang yang berniat membuka usaha Tela Tela cukup menyediakan modal Rp. 12 Juta untuk dua gerai. Selanjutnya, para agen mesti menyetorkan tiga persen dari omzet kotor tiap gerai perbulan. Pengelolaan produk dilakukan para agen dengan bumbu yang disediakan Tela Tela.

Kini, Febri dan memimpikan bisa membawa Tela tela “go international” mimpi lain adalah menembus pasar ritel modern. Untuk itu, mereka harus terus mengembangkan diri dan berorientasi terhadap semua aspek bisnis, b=terutama produk, strategi pemasarn, dan pelayanan pelanggan.

Sumber : Kewirausahaan “Teori, Praktik dan Kasus-Kasus” yang dikutip dari (Mohamad Final daeng, Sabtu 2 Mei 2009, hlm. 21)

Aplikasi Pengolah Data Eviews

Finally, Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UB beberapa minggu lagi akan menjalani Ujian Ahir Semester (UAS). Yang artinya, sedikit lagi kita akan memasuki semester genap dimana untuk angakatan 2015 adalah semester empat. Nah, salah satu mata kuliah yang akan ditempuh oleh mahasiswa semester empat adalah matakuliah Ekonometrika I. apasih ekonometrika itu? Berdsrkan yang dikatakan oleh Wikipedia, Ekonometrika adalah ilmu yang membahas masalah pengukuran hubungan ekonomi. Dengan demikian, Ekonometrika adalah ilmu yang mencakup teori ekonomi, matematika, dan statistika dalam satu kesatuan sistem yang bulat, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri dan berlainan dengan ilmu ekonomi; matematika; maupun statistika. Ekonometrika digunakan sebagai alat analisis ekonomi yang bertujuan untuk menguji kebenaran teorama-teorama teori ekonomi yang berupa hubungan antarvariabel ekonomi dengan data empirik. Nah, kurang lebih seperti itupengertiannya.

Nah, karena ekonometruika ini merupakan alat anlisis ekonomi dengan data empirik, maka digunakalan sebuah software  yang dapat mempermudah analisis kita tersebut. Software tersebut adalah Eviews. Untuk cara-cara menggunakan aplikasi tersebut dapat dibaca di -> http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/774/1/09E01764.pdf

Dan untuk mendownload aplikasinya dapat dilakukan di -> http://www.eviews.com/download/student/

Selamat mencoba :))

Falsafah Wirausaha

“Sampai tingkat tertentu keberhasilan sebagai seorang wirausaha tergatung kepada kesediaan anda untuk bertanggung jawab atas pekerjaan anda sendiri”

 

Anda harus belajar banyak tentang diri sendiri, jika anda bermaksud untuk menvapai tujuan yang sesuai dengan apa yang paling anda ingingkan dalam hidup ini. Kekuatan anda datang dari tindakan-tindakan anda sendiri dan bukan dari tindakan orang lain. Meskioun risiko kegagalan selalu ada, para wirausaha mengambil risiko dengan jalan menerima tanggingjawab atas tindakan mereka sendiri. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belakar. Beberpa wirausaha berhasil setelah mengalami banyak kegagalan. Belajar dari pengalaman lampau akan membantu anda menyalurkan kegiatan-kegiatan anda untuk mecapai hasil-hasil yang lebih positif. Dan keberhasilan merupakan buah dari usaha-usaha yang tidak mengenal lelah.

 

Kejarlah tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan dan keterlampilan-keterlampilan anda. Terimalah diri anda sebagaimana adanya, dan cobalah tekankan kekuatan-kekuatan anda dan kurangilah kelemahan-kelamahan anda. Jika anda secara jujur dan agresif mengejar tujuan-tujuan ini, anda akan dapat mencapai hasil-hasil yang posirif. Berorientasi kepada tujuan akan mendorong munculnya sifat-sifat anda yang paling baik. Lakukanlah hal-hal yang penting bagi anda dan yang dapat anda kerjakan dengan paling baik.

 

Kebanyakan orang tidak menyadari luasnya bidang dimana mereka dapat menetukan tindakan-tindkannya. Mencapai kesempurnaan merupakan sesuatu yang ideal dalam mengejar tujuan, tetapi bukan merupakan sasaran yang realistik bagi kebanyakan wirausaha. Hasil-hasil yang dapat diterima lebih penting daripada hasil-hasil yang sempurna. Berusaha mencapai suatu hasil yang sempurna demi satu tujuan dalam jangka waktu yang terlalu lama hanya akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan pribadi anda.

Sumber : Kewirausahaan : Teori dan praktik – Geoffrey G. Meredith et al.

Kisah tentang dua kakak beradik

Lebha dari 70 tahun yang lalu, Dik dan Mor, meniinggalkan desa kelahirannya di New Hampshire untuk mengadu untung di California. Seperti mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang memulai usaha pada awal abad ke-21 in, Dik dan Mor juga melakukan coba-coba pada beberapa jenis usaha. Pada tahun 1930an itu, orang-orang di California sedang asyik menggeluti usaha baru dalam bidang bisnis hiburan. Mereka pun menghabiskan waktunya di sekitar panggung pertunjukan.

Setelah memilki jiwa kewirausahaan, Dik & Mor mencoba membuka usaha teater di sekitar Hollywood. Sayangnya, bisnis ini tidak berkembang. Konsumen di Calfornia lebih senang melihat televise daripada dating ke teater. Sampai akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka punya selera yang kuat dalam usaha makanan dan punya jiwa servis karena keduanya sama-sama suka mencicipi makanan-makanan baru. Mereka pun membanting setir membuka sebuah warung kecil yang menyak=jikan makanan siap saji.

Pada 1937, masyarakat Amerika mulai gandrung dengan mobi dan banyak jalan-jalan federal yang menghubungkan kota-kota besar dibangun pemerintah Amerika Serikat. Jadi, akan banyak orang yang berpergian dan senang berada di mobil. Mereka pun melakukan inovasi, yaitu membuka kedai khusus untuk konsumen yang bias memesan dari mobil. Nama kerennya drive-in restaurant. Makanan disajikan seperti di rumah, ada piring keramik dan gelasnya. Makannya di mobil. Bisnis ini sukses besar. Mereka mulai menikmati hidup yang lebih baik dalam tempo 2 tahun.

Setelah itu, DNA kewirausahaan mereka mengatakan harus membuka cabang. Kali ini, mereka memilih lokasi di tepi kota Los Angeles yang padat ditinggali kaum pekerja. Selain sewa tanahnya murah, naluri bisnis mereka mengatakan traffic-nya banyak. Mereka lalu mengubah sedikit penyajiannya. Makanan diperluas disesuaikan dengan kebutuhan para pekerja yang menyukai hot-dog, gorengan, burger, roti sandwich, coca cola dan aneka salad. BOOM! Bisnis ini meledak. Semua orang ingin makan di sini karena aromanya wangi, kedainya bersih, dan makanannya fresh. Dik menjamin makanan yang mudah dimasak hanya boleh disimpan 10 menit. Lebih dari itu dibuang.

Dik dan Mor tiba-tiba menjadi sorotan media sebagai wirausaha sukses. Apalagi setelah perang dunia berakhirn dan para serdadu yang dikirim ke Pasifik dan Eropa Timur kembali ke tanah airnya dan mereka ingin mencoba restoran bau ini. Para veteran perang yang punya uang itu menyerbu kedai Dik dan Mor. Serdadu-serdadu itu memberi saran agar keduanya focus pada walk-up costumer saja agar penyajiannya bias lebih cepat. Usulan ini dterima, apalagi antrean semakin panjang hingga ke luar pintu.

Kedua kakak beradik ini segera menghapus pesanan dari mobil, Dan mengurangi daftar menu, mereka focus pada hamburger dan mengganti piring-piring kaca dengan pembungkus atau piring kertas agar tidak perlu mencucinya. Perubhan itu lagi-lagi menjadi berita di media, dan mereka medpatkan iklan gratis. Konsumen tambah banyak, dan kedua kakak beradik ini tambah sejahterah.

 

Sumber : Modul kewirausahaan untuk program strata 1