E C E N

Welcome~

Pengalaman Pengabdian Masyarakat di Desa Sumbersari, Kabupaten Malang — Mei 27, 2017

Pengalaman Pengabdian Masyarakat di Desa Sumbersari, Kabupaten Malang

Haiiii.. pada kesempatan kali ini, aku mau nulis sesuatu yang beda dari tulisan-tulisan aku sebelumnya hehe. Jadi, tulisan kali ini menceritakan pengalaman aku melakukan pengabdian masyarakat di desa Sumbersari, Krangploso Kabupaten Malang.pada pengabdian masyarakat ini juga diikuti oleh 32 anak lainnya. Pengabdian masyarakat ini merupakan ujian tengah semester mata kulaih Perekonomian Indonesia kelas AE yang diampuh oleh Ibu Yenni Kornitasari. Jadi, enggak hanya belajar di dalam kelas, kita juga ditunntut buat belajar di luar kelas. Keren kan? Hehe ūüėÄ

Pengabdian ini dilakukan selama 3 hari dan 2 malam, yaitu tanggal 19 Mei ‚Äď 21 Mei 2017. Perjalanan dari kampus Universitas Brwaijaya ke desa Sumbersari kira-kira selama 45 menit dengan menggunakan angkot yang khusus disewa. Lokasi desa Sumbersari sendiri terletak di kaki gunung Arjuna. Dan jauh dari jalan utama. Sepanjang perjalanan mendektai desa Sumbersari sendiri dikelilingi oleh pohon pinus yang enak dipandang mata.

Sesampainya di desa sekitar pukul 17.00 WIB, kita disambut oleh ibu Surti yang merupakan salah satu warga desa Sumbersari. Pertama melihat desa ini, saya merasa bahwa desa ini berbeda dengan desa pada umumnya. Jalan di desa ini berupa jalan berpasir karena tahun lalu baru saja dipaving sehingga cukup berbahaya dilalui oleh kenderaan roda dua. Apalagi, topografi tanahnya yang menanjak dan curam mengharuskan pengendara roda dua untuk berhati-hati, Karena mudah terpeleset, apalagi jika remnya blong, Sangat berbahaya. Namun, hal ini mungkin tidak berlaku bagi warga asli desa Sumbersari, karena mereka sudah terbiasa lalu lalang dengan membawa hasil panen dari hutan dengan motor yang rodanya sudah dimodifikasi sehingga tidak mudah terpeleset. Selain itu, saya juga melihat beberapa ibu-ibu yang juga cukup telaten dalam mengendarai motor.

38070
Jalan yang berupa paving sehingga licin serta topografi tanah yang miring

Kebanyakan rumah di desa ini masih merupakan rumah semi permanen, dengan lantai yang berupa tanah dan tembok dari anyaman bamboo, meskipun beberapa rumah sudah berlantai dan tembok dari semen. Selain itu, jika malam hari desa ini sangatlah gelap karena tidak terdapat penerangan jalan sama sekali. Listrik yang digunakan di desa ini pun hanya sebesar 5400 Watt untuk satu desa, sehingga ada beberapa rumah yang menggunakan listrik hasil dari tenaga surya, yang juga tidak terlalu terang untuk menerangi rumahnya bahkan kamar tidur tidak dilengakpi penerangan mengingat terbatasnya jumlah listrik.

Setelah sholat maghrib, kita dipersilahkan untuk masuk ke rumah  guest family masing-masing untuk sekedar meletakan barang bawaan, berkenalan maupun mengobrol singkat. Pada kesempatan ini, saya serumah bersama teman saya yang lainnya. Yaitu Elingga dan Raka. Guest familynya sendiri adalah Bapak Pi’I bersama Ibu dan anaknya  bernama Denis, yang masih duduk di bangku Sekolah dasar kelas 6 dan akan masuk Sekolah Menegah Pertama. Saat sampai, Kami disajikan teh dan disuruh makan oleh Ibu karena Ibu sudah memasak nasi dan laukpauknya. mohon maaf ya buk sudah merepotkan hehe. Kami pun mengobrol dengan Bapak dan Ibu, namun karena obrolannya kebanyakan menggunakan Bahasa Jawa sedangkan saya kurang paham, maka saya hanya bisa mencerna beberapa informasi saja hihi._.V. Setelah mengobrol dengan Bapak dan Ibu, kami pun kembali ke mushola untuk melaksanakan sholat Isya bersama.

Pada keesokan harinya, saya dan Elingga bangun pukul 05.00 WIB untuk melaksanan sholat subuh. Sebenarnya kita sudah membangunkan si Raka, akan tetapi karena tidak kunjung bangun jadi kita tingal saja hehe *maafkan kita ya Raka wkwk*. Suhu udara di pagi hari sangatlah dingin, hal ini tidak mengheranakn mengingat desanya yang terletak di kaki gunung dan di ketinggian (bahkan kita bisa melihat dengan jelas kilauan lampu di  malang saat malam hari dari desa ini). Saking dinginnya suhu udara di desa ini, saya hamper tidak bisa tidur walaupun sudah memakai jaket dan menutup sekujur tubuh dengan blanket, sangat-sangatt dingin!!!. Setelah sholat, kami pun pulang. Setibanya di rumah, kami sudah dibuatkan oleh Ibu. Kami duduk di depan rumah sambil melihat pemandangan hutan dari kejauhan. Karena bingung mau ngapain, akhirnya aktivitas yang saya lakukan pada pagi hari itu adalah menyapu halaman rumah guest family saya.

38061
Pemandangan dari rumah guest family aku. udaranya sangat sejuuukkk
Desa_170527_0391
Menikmati secangkir teh yang dibuat ibu sembari duduk di depan rumah ūüôā

Pukul 08.00 WIB, kami mengikuti Bapak ke hutan bersama dengan dua orang temannya. Perjalanan dari desa ke hutan ini menggunakan mobil temen bapak, yaitu pak Junaedi. Karena menggunakan mobil, waktu tempuhnya menjadi lebih cepat. Sesampaiya di kebun, kami membantu membrsihkan ranting-ranting pohon pinus yang ada. Kata bapak, ranting-ranting itu harus disingkirkan agar saat mencangkul tanahnya lebih gampang, tidak terhalangi oleh ranting-ranting pohon pinus tersebut. Setelah membersihkan ranting-ranting pohon, kami memangkas tanaman lihar dengan menggunakan arit yang telah Bapak siapkan. Lahan yang kami bersihkan tersebut rencananya mau ditanami bunga rotensia. Dulunya lahan itu merupakan lahan yang ditanami wortel, akan tetapi karena merugi sehingga digantu dengan tanama   bunga rotensia dan hasil panen tersebut dipasarkan di Surabaya dan sekitarnya. Kata Pak Junaedi, tanaman bunga ini laris dipasaran bahkan cenderung kekurangan penawaran sehingga mengntungkan. Pukul 12.00 kami pun pamitan kepada Bapak untuk kembali ke Desa. Perjalanan pulang dilakukan dengan berjalan kaki.

38055
Mengelolah ladang untuk ditanami bunga ūüôā
38051
lagi gabut jadinya gini wkwk
38054
Pemandangan sekitar ladang bapak. indahnyaaa ‚̧

Pukul 15.00 kita semua berkumpul di mushola untuk mengadakan game kecil-kecilan bersama anakp-anak desa Sumbersari. Gamenya pun berjalan sukses dan cukup membuat anak-anak bahagia, semuanya menang dan diberikan hadiah. Senyum dan tertawa bahagia tampak dari wajah mereka, mengingat jarang ada game semacam ini.

38049
adek-adeknya lagi main.. seru banget ya ūüėÄ
Desa_170527_0047
kakak-kakaknya juga ikut main ūüėÄ gak mau kalah sama adek-adeknya wkwk

Agenda pada malam harinya sendiri adalah rama tamah dengan warga desa Sumbersari yang dilaksanakan  di musholah. Acara ini berjalan lancar dan ditutup dengan pembagian nasi tumpeng dan laukpauknya. Kami pun bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Desa_170527_0123
Suasana saat rama tamah di mushola ūüôā
Desa_170527_0098
semua mata tertuju ke tumpeng dan laukpauknya ūüėÄ emang sih menggoda banget :3

Hari ketiga pun tiba, agenda kami pada pagi hari adalah melakukan kerja bakti. Kami memungut sampah dari ujung atas ke bawah, menyisir setiap sudut selokan guna mencari sampah plastic yang sulit diurai. Kegiatan ini sendiri  berjalan sekitar 3 jam. mulanya sih anak-anaknya masih dikit (karena mungkin belum bangun) tapi lama-kelamaan jadi banyak yang ngumpul~

Desa_170527_0395
lagi ngapain pak? wkwk
Desa_170527_0400
eksis bentar yak wkwk ūüėÄ

Setelah kegiatan kerja bakti kita kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri, membereskan segala barang-barang dan berkumpul kembali untuk membagikan sembako, mengingat jam 12 kita sudah harus kembali ke Malang. Kami pun membagikan sembako kepada guest family kami masing-masing sekaligus untuk berpamitan. Karena pagi itu hanya ibu dan Denis yang berada di rumah, sedangkan Bapak ke hutan. Maka terlbih dahulu saya dan dua temen saya berpamitan kepada Ibu dan Denis, lalu ke hutan dan berpamitan dengan Bapak. Kami pun tidak di kampus kembali pukul 13.00 WIB dan melajutkan pulang ke rumah/kosan masing-masing

Desa_170527_0172
wajah-wajah bahagia karena udah mau pulang :D. eitts enggak, ini wajah-wajah bahagia karena mau membagikan sembako ūüėÄ
Desa_170527_0217
Foto bareng squad AE Perekonomian Indonesia 2017 sebelum kembali ke Malang :))

Pengabdian masyarakat ini merupakan pengalaman pertama saya menginap dan berinterksi dengan warga desa. Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari kegiatan pengabdian ini, mulai dari warga desanya yang sangat ramah hingga pergi ke ladang untuk membantu mengelolah ladang Walaupun saya pernah tinggal di desa, akan tetapi 3 hari 2 malam di desa ini sangattlah kurang. semoga di lain kesempatan bisa kembali bertemu dengan warga desa ini, terutama Bapak dan Ibu serta Denis di lain kesempatan :))

Literasi Keuangan di Indonesia — Mei 25, 2017

Literasi Keuangan di Indonesia

6745885_orig

Apa itu literasi keuangan? Menurut KBBI, literasi berarti kesanggupan membaca dan menulis. Jadi, dapat dikatakan bahwa literasi keuangan dapat diartikan sebagai kecapakan atau kesanggupan dalm hal keuangan/finansial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013 untuk menilai tingkat literasi keuangan masyarakat di Indonesia, didapati bahwa 21,84% termask dalam golongan well literate. Well literate sendiri yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan dan keyanikan tentang lembagajasa keuangan, termasuk fitur, manfaaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki ketrampilan dalam menggunakn produk dan jasa keuangan.

75,69%  termasuk dalam golongan Sufficient liteate, yaitu seseorang yan memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga dan jasa keuangan, termask fitur, manfaat dan risiko, hak dankewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Adapun 2,06% tergolong dalam Less literate yakni seseorang yang hanya memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan serta tidak memilki ketrampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Adapun survei yang dilakukan kedua kalinya oleh OJK pada tahun 2016, menemukan bahwa secara keseluruhan, indeks literasi keuangan Indonesia pada tahun 2016 mencapai 29,66% yang mana meningkat dibandingkan dengan survei tahun 2013 yang sebesar 21,84%.

Jika dilihat secara keseluruhan dari survei OJK tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia  belum memahami dengan baik  mengenai produk dari jasa keuangan sendiri. Jika dibandingkan dengan beberapa Negara ASEAN lainnya, Indonesia masih kalah dengan Tailand (78%), Malaysia (81%) dan Singapura (96%). Literasi keungan ini sendiri merupakan hal penting yang seharusnya dimilki oleh setiap orang. Dengan rendahnya literasi keuangan masyarakat, maka masyarakkat dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, seperti penipuan, investasi bodong dan sebagainya. Oleh karena itu, sosialisasi dari pihak yang bersangkutan diperlukan agar masyarakat lebih teredukasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan jasa keuangan. Selain itu, peningkatan perlindungan terhadap konsumen di sector jasa keuangan  juga perlu ditingkatkan.

 

Seseorang dengan literasi keuanagn yang tegolong dalam well literate akan mampu memandang uang dari sudut pandang yang berbeda dan memiliki kendali. Jenis orang ini tahu apa yang harus dilakukan dengan uang yang dimiliki/akan dimiliki serta bisa memanfaatkan uang tersebut, bukan sebaliknya uang memanfaatkan orang tersebut.

 

Industri Padat Modal atau Padat Karya? — Mei 2, 2017

Industri Padat Modal atau Padat Karya?

images

Dalam menunjang kegiatan produksi, ada dua alternative yang dapat digunakan yaitu padat modal (capital intensive) dan padat karya (labor intensive). Padat modal merupakan industry yang dibangun dengan modal yang besar dan didukung oleh teknologi yang tinggi. Industry padat modal termasuk industry dasar atau industry hulu seperti mesin, logam dasar, industry elektronik. Industry padat modal merupakan industry yang pada proses produksinya cenderung menekankan dan tergantung pada penggunaan mesing-mesin dibandingkan dengan tenaga kerja manusia, dan pada umumnya digunakan dalam proses produksi perusahaan-perusahaan besar.

Adapaun industry padat karya adalah kegiatan proses produksi yang banyak menggunakan tenaga manusia dibandingkan dengan tenaga mesin. Tujuan utama dalam penggunaan padat karya ini dalam proses produksi adalah membuka lapangan pekerjaan. Salah satu contoh dari bentuk pekerjaan padat karya adalah pekerjaan padat karya adalah pekerjaan konstruksi seperti perbaikan jalan, saluran dan sebagainya.

Lalu, apa alternatif yang cocok digunakan di Indonesia? Yang paling cocok adalah industry dengan padat karya, mengingat Negara Indonesia saat ini memiliki jumlah sumber daya manusia produktif yang sangat besar sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sumber daya manusia yang berlimpah ini apabila tidak dimanfaatkan secara baik maka akan menimbulkan masaalah pengangguran. Selain itu, padat karya cocok diterapkan di Indonesia karena banyak kegiatan usaha yang sedang berkembang yang erat kaitannya dengan penggunaan tenaga kerja sebagai input utamanya seperti industri kreatif.

Industri  kreatif adalah kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif ini dikenal juga dengan nama Industri Budaya (Eropa) atau juga Ekonomi Kreatif. Definis lain dari industry kreatif adalah industry yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterlampilan serta bakat individu untuk mencipatakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Ekonomi kreatif terdiri dari periklanan, fashion, film, music, seni pertunjukan, penerbitan, penelitian dan pengembangan, televise dan radio dan permainan radio.

Fesyen dan kerajinan contohnya, merupaka subsector ekonomi kreatif yang telah memberikan kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja bahkan pertumbuhan ekonomi nasional. Seiring dengan berjalannya waktu, subsector ini megalami peningkatan jumlah perusahaan hingga pangsa pasar ekspor. Kerajinan tradisional yang telah diwariskan mampu menghasilkan produk-produk unggulan dan mempunyai nilai kekayaan tradisional. Industri kretaif pada tahun 2016 menyerap tenaga kerja dengan kontribusi sebesar 10,7% atau 11,8 juta orang, padahal industri kreatif ini belum terlalu lama berkembang dan berpotensi untuk terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Ekonomi kreatif masih potensial dan bias menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan perekonomian nasional kedepannya, juga penyerapan tenaga kerja karena industry ini didukung dengan sumber daya utamanya adalah orang kreatif yang dapat terus berkembang dan menciptakan nilai tambah. Kreativitas manusia menjadi motor utama penggerak ekonomi.

Dalam upaya mengurangi pengangguran pemerintah meluncurkan ‚ÄúProgram Investasi Padat Karya Menciptakan Lapangan Kerja‚ÄĚ. Program ini merilis 16 perusahaan padat karya yang akan merekrut tenaga kerja secara besar-besaran hingga mencapai 121.000 tenaga kerja. 16 perusahaan padat karya ini terlibat dalam tahap pertama program investaasi padat karya yang terdiri dari 3 Penanaman Modal Asing (PMA) dan 2 Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Akan tetapi, program ini masih terbatas di pulau Jawa saja mengingat banyaknya tenaga kerja di pulau ini.

Kesimpulannya, industi padat karya lebih cocok diterapkan di Indonesia mengigat melimpahnya sumber daya manusianya, namun industry padat modal juga digunakan  dikarenakan sector manufaktur di Indonesia juga terdapat perusahaan-perusahaan yang berskala besar yang menggunakan tekonologi secara penuh dalam efisiensi produksinya akan tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan dalam padat karya.

Upaya Mempertahankan Lahan Pertanian — April 25, 2017

Upaya Mempertahankan Lahan Pertanian

images (1)

Ketersediaan pangan merupakan hal yang penting dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan manusia, terlebih bagi kebutuhan pangan sebagai kebutuhan dasar manusia. Apalgi, melihat jumlah masyarakat yang semkain hari semakin bertambah mengakibatkan meningkatknya kebutuhan akan pangan tersebut, sehingga ketersedian pangan yang cukup, aman dan berkualitas menjadi sebuah keharusan.

Berbicara mengenai ketersediaan pangan, erat kaitannya dengan tersedianya sumber lahan bagi pertanian. Kurang lebih sekitar 50.ooo sampai dengan 100.000 hektar lahan pertanian hilang setiap tahunnya, baik oleh karena beralihnya fungsi lahan dengan alasan lahan yang dijadikan tempat untuk memproduksi pangan semakin tidak menguntungkan  ataupun  lahan pertanian yang tidak lagi tergarap oleh para petani karena regenerasi petani yang semakin kecil sehingga lahan mejadi tidak produktif

Masalah  yang paling sering terjadi adalah lahan tersebut diperjualbelikan, terutama jika lahan warisan pemberian  dari orangtua. Data yang diperoleh menunjukkan  ada sedikitnya 826.000 rumah tangga petani yang memutasi lahan sawahnya. Dari jumlah itu, 612.000 rumah tangga petani menjual lahannya serta sisanya menghibahkan lahan tersebut untuk berbagai kepentingan. Mayoritas alasannya karena kebutuhan ekonomi. Dari 612.000 rumah tangga petani yang menjual lahannya karena alasan ekonomi ada 400.000-an atau sekitar 66 persen. Sisanya menjual lahan pertanian karena tergusur proyek pemerintah dan tidak mampu mengelola lahannya lagi.

Makin sedikitnya lahan  pertanian ini menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh pemerintah kita. Apalagi,  penduduk rawan pangan (Kondisi ketidakmampuan suatu rumah tangga/individu untuk mengakses dan mengkonsumsi pangan dalam jumlah yang cukup pada kurun waktu tertentu, baik sebagai akibat dari kegagalan produksi maupun  masalah daya beli yang bila terus berlanjut berakibat pada terjadinya kelaparan, busung lapar atau gizi buruk) terus meningkat setiap tahunnya, sedangkan penduduk tahan pangan hampir tidak tumbuh.

Pada tahun 2013 ada sedikitnya 47,02 juta penduduk sangat rawan pangan. Pertumbuhannya sekitar 5,96 persen per tahun. Oleh karena menyustnya luas lahan pertanian dari waktu ke waktu tersebut maka diperlukan upaya-upaya guna mempertahkan atau bahkan menambah luas fungsi lahan sebagai sumber pangan bagi masyarakat, jika dibandingkan dengan Negara di Asia Tenggara lainnya, luas lahan perkapita Indonesia masih cenderung kecil yaitu sebesar 0,25 hektar perkapita per tahun sedangkan Negara seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam mencapai rata-rata 3,5 hektar perkapita per tahun.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan menegakkan produk hukum seperti Undang-Undang (UU) Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) untuk mencegah penyusutan lahan pertanian. Selama ini, UU PLP2B yang bertujuan menetapkan lahan pertanian dilindungi belum diimplementasikan secara tegas dan menyeluruh. Sebagian besar lahan pertanian dengan mudah berubah menjadi lahan nonpertanian, seperti apartemen, perhotelan, serta perumahan. UU PLP2B memang telah diturunkan menjadi peraturan daerah (perda) di beberapa provinsi di Indonesia. Namun demikian, secara keseluruhan belum teruskan menjadi peraturan bupati yang didukung dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di tingkat kabupaten. Oleh karena itu, maka penegakkan UU PLP2B ini perlu diperhatikan oleh pemerintah.

Adapun upaya yang lain adalah memberikan subsidi pengolahan lahan kepada para petani agar para petani semakin mudah dalam mengelola aktivitas pertanian sehingga meningkatkan produktivitas lahan. Selain itu, upaya yang dapat dilakukan adalah menagajak masyarakat yang memiliki pekarangan di masing-masing rumah agar dipergunakan atau dimanfatkan agar lahan tersebut tidak menganggur, contohya adalah dengan menanam beberpa produk holtikultura yang nantinya dapat dikonsumsi sendiri oleh masyarakat pemilik pekarangan.

Bonus Demografi 2020-2030 : Peluang atau Bencana? —

Bonus Demografi 2020-2030 : Peluang atau Bencana?

images

Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada 2020-2030 mendatang, yaitu keadaan dimana jumlah penduduk dengan usia produktif lebih besar sedangkan usia muda dan usia lanjut. Berdasarkan perkiraan, jumlah usia produktif (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70% sedangkan sisanya yang 30% adalah penduduk di usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif ini kurang lebih sebanyak 180 juta penduduk sementara nonproduktif kurang elbih sebanyak 60 juta penduduk.

Bonus demografi ini memberikan dampak social-ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satunya yaitu menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tangkat penduduk produktif menanggung penduduk nonproduktif akan sangat rendah, diperkiran 44 per 100 penduduk. Hal tersebut berdasarkan dengan laporan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang mengatakan bahwa dibandingkan dengan Negara asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020.

Hal ini merupakan sebuah peluang  karena dengan banyaknya jumlah penduduk dengan usia produktif akan menguntukngkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memicu peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi. Sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Akan tetapi, bonus demografi ini juga dapat menjadi sebuah bencana bagi Indonesia jika kedatangan bonus demografi tidak dipersiapkan secara matabg. Masalah yang paling nyata adalah ketersediaan lapangan pekerjaaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan terhadap 70% penduduk usia produktif tersebut? Jikalaupun lapangan pekerjaan tersedia, apakah sumber daya manusia kita mampu bersaing secara internasional?  Untuk menyiasati kurangnya lapangan pekerjaan adalah dengan mendorong minat berusaha/berwirausaha para penduduk usia produktif baik melalui pemerintah, swasta maupun dari kalangan mahasiswa. Dengan adanya minat berwirausaha yang tinggi maka dapat membuka lapangan-lapangan pekerjaan baru sehongga dapat mengurangi pengangguran.

Berdasarkan informasi yang ada menyatakan bahwa jumlah wirausaha Indonesia saat ini masih sebesar 3,1% dari populasi Indonesia yang sebesar +/- 252 juta. Jumlah ini masih rendah jika dibandingkan dengan Negara Malaysia yang sebesar 5%, Singapura 7%, China 10%, Jepang 11% dan Amerika Serikat 12%.  Adapun untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan memberikan akses pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. Selain pendidikan, perbaikan mutu sumber daya manusia Indonesia juga harus didiukung dengan perbaikan kesehatan, peningkatan kemampuan komunikasi serta penguasaan teknologi.

Selain pemerintha, peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam menghadapi bonus demografi ini. Masyarakat dituntut agar sadar akan pentingnya peningkatan sumber daya manusia sehingga diharapkan dapat memanfaatkan sebaik mungkin penyediaan akses pendidikan, selain itu masyarakat Indonesia juga diharapkan akan kesadaran pentingnya kesehatan serta aspke-aspek lain yang mendorong peningkatan mutu sumber daya manusia.

Pada akhirnya,  bonus demografi dapat dianalogikan sebagai pedang bermata dua. Satu sisi adalah berkah jika berhasil mengambilnya. Satu sisi yang lain adalah bencana seandainya kualitas SDM tidak dipersiapkan.

Tujuan Kedelepan Sustainable Development Goals ‚ÄúMempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua‚ÄĚ — April 4, 2017

Tujuan Kedelepan Sustainable Development Goals ‚ÄúMempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua‚ÄĚ

 

 

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan¬†atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai¬†Sustainable Development Goals¬†disingkat dengan¬†SDGs¬†adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh¬†PBB¬†sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet¬†bumi¬†.[1]¬†[2]¬†Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030.¬†[1]¬†Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari¬†Tujuan Pembangunan Milenium¬†yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Salah satu tujuan atau sasaran dari ketujuhbelas SDGs tersebut adalah ‚ÄúMempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua‚ÄĚ yang merupakan sasaran/tujuan kedelepan.

Pertumbuhan ekonomi sebagian besar mengacu pada perubahan dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Matrik ini umumnya digunakan sebagai ¬†standar hidup suatu negara atau disebut juga sebagai kesejahteraan ekonomi. Selain itu, perubahan PDB (atau pertumbuhan ekonomi) dipahami untuk mencerminkan perubahan dalam kesejahteraan. Akan tetapi, terkadang PDB tidak mencerminkan kesehjateraan masyarakat suatu Negara secara pasti, hal ini dikarenakan PDB tidak secara pasti menghitung output yang dihasilkan oleh seseorang secara rinci melainkan secara agregat. ‚Äúinflusif‚ÄĚ memiliki arti ‚Äútermasuk di dalamnya‚ÄĚ yang memiliki maskud bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, akan tetapi juga menjamin aksesibilitas yang sama terhadap peluang ekonomi yang terjadi ¬†terhadap seluruh segmen khususnya masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah.

Sedangkan makna berkelanjutan adalah, dalam hal peningkatan pertumbuhn ekonoi, kita juga perlu memperhatikan aspek lingkungan hidup serta social budaya. Ilmu pengetahuan terbatu menunjukkn bahwa produktifitas kerja dan pekerjaan yang layak merupakan kunci untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Seseorang yang Memiliki pekerjaan tidak  menjamin bahwa orang tersebut terbebas dari belenggu kemiskinan. Kurangnya lapangan pekerjaan yang layak secara terus menerus, investasi yang rendah dan tidak memadai serta konsumsi yang rendah adalah factor yang mempengaruhi kemiskinan. Menempatkan penciptaan kesempatan kerja sebagai pusat dari pembuatan kebijakan ekonomi dan rencana pembangunan, tidak hanya akan menghasilkan peluang kerja yang layak namun juga pertumbuhan yang lebih kuat, inklusif dan dapat mengurangi kemiskinan. Ini merupakan lingkaran positif yang baik bagi perekonomian maupun bagi masyarakat serta mendorong pembangunan berkelanjutan. SDGs berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan mencapai produktivitas lebih tinggi serta melalui inovasi teknologi. Mempromosikan kebijakan yang mendorong kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja adalah kuncinya, dan ini juga merupakan  cara efektif untuk menghentikan kerja paksa, perbudakan, dan perdagangan manusia. Dengan target-target tersebut, diharapkan tujuan untuk meraih ketenagakerjaan penuh dan produktif serta pekerjaan layak bagi semua orang bisa dicapai pada 2030 mendatang.

 

Untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk usia kerja di seluruh dunia yang mencapai sekitar 40 juta per tahunnya, diperkirakan lebih dari 600 juta pekerjaan baru perlu diciptakan hingga tahun 2030. Kondisi sekitar 780 juta pekerja perempuan dan laki-laki dengan penghasilan kurang dari dua dolar per hari dan tidak memadai untuk mengangkat diri dan keluarga mereka keluar dari kemiskinan, juga perlu ditingkatkan. Di tingkat internasional, Indonesia telah membuat komitmen yang sangat kuat untuk mewujudkan pekerjaan layak dan memainkan peranan penting guna memastikan bahwa persoalan ketenagakerjaan dan tenaga kerja dimasukkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pentingnya kerja layak dalam mencapai pembangunan berkelanjutan disoroti oleh Tujuan 8 yang bertujuan untuk ‚Äúmendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja produktif serta kerja layak untuk semua‚ÄĚ. Pemerintah Indonesia akan mengintegrasikan SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai badan koordinator untuk penerapan SDGs yang bersifat lintas sektor.

 

Adapun, target dari tujuan kedelapan SDGs ini anatara lain sebagai berikut:

8.1 Mempertahankan pertumbuhan ekonomi per kapita sesuai dengan kondisi nasional dan, khususnya, setidaknya 7% pertumbuhan produk domestik bruto per tahun di negara kurang berkembang
8.2 Mencapai tingkat produktivitas ekonomi yang lebih tinggi, melalui diversifikasi, peningkatan dan inovasi teknologi, termasuk melalui fokus pada sektor yang memberi nilai tambah tinggi dan padat karya
8.3 Menggalakkan kebijakan pembangunan yang mendukung kegiatan produktif, penciptaan lapangan kerja layak, kewirausahaan, kreativitas dan inovasi, dan mendorong formalisasi dan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk melalui akses terhadap jasa keuangan
8.4 Pada tahun 2030, mencapai pekerjaan tetap dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua perempuan dan laki-laki, termasuk bagi pemuda dan penyandang difabilitas, dan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya
8.5 Pada tahun 2020, secara substansial mengurangi proporsi pemuda yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan atau pelatihan

 

 

Perencanaan Ekonomi Desa berbasis Partisipasi Masyarakat dalam pemanfaatan Kekayaan dan Potensi Desa — Maret 28, 2017

Perencanaan Ekonomi Desa berbasis Partisipasi Masyarakat dalam pemanfaatan Kekayaan dan Potensi Desa

Perencanaan merupakan suatu rangkaian proses kegiatan menyiapkan keputusuan-keputusan mengenai suatu tujuan yang aka dicapai, baik berupa peristiwa, suasana, keadaan dan sebagainya. Perencanaan sangat penting dilakukan agar potensi kegagalan dalam mencapai suatu  tujuan dapat diminimalisir atau dihilangkan. Perencanaan di tingkat desa, kita mengenal yang namanya musyawarah perencanaan dan pembagunan desa (musrembang). Musrembang ini merupakam forum tahunan para pemangku kepentingan dalam rangka menyepakati rencana pembangunan dalam satu tahun anggaran. Semua sasaran tujuan yang diharapkan desa dalam satu tahun disepakati di dalam forum ini. Berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan, perencanaan pembangunan ekonomi desa berbasis  partisipasi masyarakat merupakan perencanaan pembangunan desa yang menngandalkan partisipasi masyarakat guna memanfaatkan kekayaan dan potensi desa desa guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa setempat.

Asset atau kekayaan desa dapat berupa tanah, pasar, tambatan perahu, pelelangan ikan, hutan milik desa dan asset milik desa lainnya yang sah. Asset milik desa lainnya yang sah ini antara lain;

  1. Kekayaan desa yang dibeli atau diperoleh atas APBD dan APBDes
  2. Kekayaan desa yang diperleh dari hibah maupun sumbangan dan atau sejenisnya
  3. Kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan lain-lain sesuai dengan ketentuan
  4. Hasil kerjasama desa dan
  5. Kekayaan desa yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Adapun potensi yang dimiliki desa antara lain :

  1. Desa merupakan penyedia utama sumber-sumber pokok pangan nasional
  2. Potensi pengembangan sector pertanian di desa jauh lebih besar dibandingkan wilayah perkoataan. Potensi tersebut seperti lahan pertanian dan SDM yang mayoritas pekerjanya adalah petani
  3. Hasil atau komoditi pertanian yang dihasilkan oleh desa merupakan sumber abahan baku utama dalam indsutri pengelolaan makanan dan energy baru ramah ligkungan.
  4. Potensi peluang yang besar dalam menguatkan ketahanan pangan dan energy nasioanl di desa perlu menjadi perahtian bersama karena desa merupakan sumber penyedia dan penguat bagi cadangan pangan dan energy yang merupakan kebutuhan pokok nasional
  5. Dengan membangun desa, bukan hanya mampu menjadi sumber cadangan pangan dan energi nasiona.

Asset dan potensi desa tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien apabila tidak terdapat partisipasi masyarakat di dalamnya, mengingat partisipasi masyarakat desa sangat diperlukan dalam hal pengambilan keputusan dalam mencapai tujuan yang diharapkan desa. Adapun cara mendorong partisipasi masyarakat desa dapat dilakukan melalui :

  1. Masyarakat desa akan berpartisipasi apabila mereka merasa bahwa isu/aktivitas tersebut penting. Oleh karena itu, dibutuhkan seseorang atau beberapa orang yang akan menjadi role model/penggerak atau panutan. Orang yang berperan sebagai role model ini akan menjadi panutan masyarakat desa lainnya dalam melakukan aktivitas guna mencapa tujuan
  2. Masyarakat desa harus merasa bahwa aksi mereka akan membuat perubahan
  3. Berbagai betuk partisipasi harus diakui dan dihargai
  4. Struktur dan proses tidak boleh mengucilkan

Dalam menerapkan perencaan ini, tentunya ada tantangan yang dapat menghambat perencanaan partisipasi ini yang berupa hambatan structural yang membuat iklim atau lingkungan menjadi kurang kondusif, hambatan internal merupakan hambatan dari dalam, yang artinya tidak adanya kemampuan atau kesediaan masyarakat sendiri untuk dapat berpartisipasi serta hambatan yang disebabkan kurang menguasainya metodedan atau teknik yang digunakan. Serta hambatan karena kurang tidak menguasai metode atau teknik yang digunakan.