Kisah tentang dua kakak beradik

Lebha dari 70 tahun yang lalu, Dik dan Mor, meniinggalkan desa kelahirannya di New Hampshire untuk mengadu untung di California. Seperti mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang memulai usaha pada awal abad ke-21 in, Dik dan Mor juga melakukan coba-coba pada beberapa jenis usaha. Pada tahun 1930an itu, orang-orang di California sedang asyik menggeluti usaha baru dalam bidang bisnis hiburan. Mereka pun menghabiskan waktunya di sekitar panggung pertunjukan.

Setelah memilki jiwa kewirausahaan, Dik & Mor mencoba membuka usaha teater di sekitar Hollywood. Sayangnya, bisnis ini tidak berkembang. Konsumen di Calfornia lebih senang melihat televise daripada dating ke teater. Sampai akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka punya selera yang kuat dalam usaha makanan dan punya jiwa servis karena keduanya sama-sama suka mencicipi makanan-makanan baru. Mereka pun membanting setir membuka sebuah warung kecil yang menyak=jikan makanan siap saji.

Pada 1937, masyarakat Amerika mulai gandrung dengan mobi dan banyak jalan-jalan federal yang menghubungkan kota-kota besar dibangun pemerintah Amerika Serikat. Jadi, akan banyak orang yang berpergian dan senang berada di mobil. Mereka pun melakukan inovasi, yaitu membuka kedai khusus untuk konsumen yang bias memesan dari mobil. Nama kerennya drive-in restaurant. Makanan disajikan seperti di rumah, ada piring keramik dan gelasnya. Makannya di mobil. Bisnis ini sukses besar. Mereka mulai menikmati hidup yang lebih baik dalam tempo 2 tahun.

Setelah itu, DNA kewirausahaan mereka mengatakan harus membuka cabang. Kali ini, mereka memilih lokasi di tepi kota Los Angeles yang padat ditinggali kaum pekerja. Selain sewa tanahnya murah, naluri bisnis mereka mengatakan traffic-nya banyak. Mereka lalu mengubah sedikit penyajiannya. Makanan diperluas disesuaikan dengan kebutuhan para pekerja yang menyukai hot-dog, gorengan, burger, roti sandwich, coca cola dan aneka salad. BOOM! Bisnis ini meledak. Semua orang ingin makan di sini karena aromanya wangi, kedainya bersih, dan makanannya fresh. Dik menjamin makanan yang mudah dimasak hanya boleh disimpan 10 menit. Lebih dari itu dibuang.

Dik dan Mor tiba-tiba menjadi sorotan media sebagai wirausaha sukses. Apalagi setelah perang dunia berakhirn dan para serdadu yang dikirim ke Pasifik dan Eropa Timur kembali ke tanah airnya dan mereka ingin mencoba restoran bau ini. Para veteran perang yang punya uang itu menyerbu kedai Dik dan Mor. Serdadu-serdadu itu memberi saran agar keduanya focus pada walk-up costumer saja agar penyajiannya bias lebih cepat. Usulan ini dterima, apalagi antrean semakin panjang hingga ke luar pintu.

Kedua kakak beradik ini segera menghapus pesanan dari mobil, Dan mengurangi daftar menu, mereka focus pada hamburger dan mengganti piring-piring kaca dengan pembungkus atau piring kertas agar tidak perlu mencucinya. Perubhan itu lagi-lagi menjadi berita di media, dan mereka medpatkan iklan gratis. Konsumen tambah banyak, dan kedua kakak beradik ini tambah sejahterah.

 

Sumber : Modul kewirausahaan untuk program strata 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s