Febri mengangkat martabat singkong

Selama ini, singkong identic dengan makanan orang ndeso, jauh dari kesan “mewah”, sehingga sering disepelekan. Namun, di tangan Febri Triyono (27) dan teman-temannya, umbi tanaman khas tropis bernama Inggris Cassava itu menjadi lading emas yang menjanjikan.

Melalui usaha Tela Tela, singkong diubah menjadi kudapan dengan berbagai jenis rasa, mirip kentang goring yang hadir di tiap restorant cepat saji. Dalam waktu empat tahun, Tela tela menjadi merek waralaba popular, yang tersebar di 182 kota dari banda Aceh hingga Papua dengan 1.650 gerai.  Dengan harga jual satu pak Rp. 3000-6000, omzet usaha ini mencapai Rp. 2,5 – 3 miliar perbulan. Tenaga kerja yang terserap sekitar 3.500 orang. Tak mengherankan bila Febri terpilih menjadi salah satu wirausaha muda terbaik 2008 – 2009 di Dji Sam Soe Award.

Febri bersama Eko Yulianto, Ashari Tamimi, dan Fath Aulia Muhammad memulai usaha Tela Tela pada September 2005. Saat itu Febri dan Eko, yang bersaudara kandung, mencari usaha yang bisa mengatasi masalah keuangan keluarga mereka. Bersama kedua teman kuliah Eko, yaitu Ashari dan Fath, empat anak muda ini menjual singkong goring. Pertama berjualan di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada. Pembeli yang kebanyakan mahasiswa, memberi respon positif. Namun, mereka tidak lama berjualan di sana karena diusir satpam kampus UGM. Gebri lalu memindahkan dagangan di dekat rumahnya, yang berada di lingkungan kos-kosan mahasiswa. Peluang mengembangkan usaha databg saat mendapat tawaran ikut Atma Jaya Expo 2005 di Yogyakarts. Setelah Atma jaya Expo, Febri mulai menata usahanya, antara lain dengan mendesain kemasan dan gerobak, selain mulai mengadopsi sistem waralaba. Setiap orang yang berniat membuka usaha Tela Tela cukup menyediakan modal Rp. 12 Juta untuk dua gerai. Selanjutnya, para agen mesti menyetorkan tiga persen dari omzet kotor tiap gerai perbulan. Pengelolaan produk dilakukan para agen dengan bumbu yang disediakan Tela Tela.

Kini, Febri dan memimpikan bisa membawa Tela tela “go international” mimpi lain adalah menembus pasar ritel modern. Untuk itu, mereka harus terus mengembangkan diri dan berorientasi terhadap semua aspek bisnis, b=terutama produk, strategi pemasarn, dan pelayanan pelanggan.

Sumber : Kewirausahaan “Teori, Praktik dan Kasus-Kasus” yang dikutip dari (Mohamad Final daeng, Sabtu 2 Mei 2009, hlm. 21)

Iklan